Lebaran Kedua di Negeri Rantau
Tahun ini kedua kalinya saya berlebaran di tanah rantau. Jauh dari Ibu, Ayah, istri, kakak, dan adik tercinta.
Tidak seperti kala berlebaran di rumah yang lebih terasa suasananya, lebaran di negeri asing lebih terasa sepi. Tak ada saudara yang berkunjung atau dikunjungi, kue lebaran, ketupat buatan Ibu, atau tawa dan canda saudara-saudara...
Tak ada pula hari libur. Malam hari pertama Idul Fitri pertama ini saya harus masuk kuliah :( Business as usual...
Tapi berlebaran di negeri rantau ini memberi saya kesempatan merasakan bahwa bisa merayakan hari raya di rumah bersama keluarga tanpa harus disibukkan dengan kuliah atau pekerjaan adalah anugrah yang sangat berharga. These things are some of the little things that we often take for granted. Yet, it is very meaningful for us that we can't live without.
Dan satu lagi...saya bisa merasakan langsung makna nasyid berjudul "Satu Pagi di Hari Raya" yang dinyanyikan oleh Raihan. Ada satu bait yang sangat dalam maknanya:
...
Gema takbir di pagi raya
Ku teringat kampung halaman
Aku di perantauan
Tak berdaya menahan sebak
Gema takbir di pagi raya
Ku rindukan ibu di sana
Keluarga sanak saudara
Hanya doa kukirim
Marilah di hari raya
Kita semua bermaafan
Lupakan persengketaan
Eratkan persaudaraan
Harmoni di hari raya
....
(diambil dari "Satu Pagi di Hari Raya", dinyanyikan oleh Raihan)




